You are here

Industri Alat Berat Topang Sektor Infrastruktur hingga Pertanian

by Sebastianus Epifany Thursday, December 14, 2017 - 10:23

JAKARTA - Industri alat berat berperan penting mendukung kegiatan usaha lain, seperti di sektor pertambangan, pengolahan lahan hutan, pembangunan infrastruktur, serta perkebunan dan pertanian. Kinerja industri alat berat nasional mulai memperlihatkan tanda-tanda perbaikan pada tahun ini, yang tercermin dari laporan produksi dan penjualan.

"Apalagi, pemerintah sedang fokus untuk pemerataan pembangunan di seluruh wilayah, khususnya daerah-daerah terluar Indonesia. Pembangunan ini mencakup kegiatan-kegiatan pembukaan lahan serta pembuatan sarana dan prasarana pendukung kehidupan masyarakat," ungkap Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto pada Perayaan HUT ke-35 PT. Komatsu Indonesia di Jakarta, Rabu (13/12).

Merujuk data Himpunan Alat Berat Indonesia (Hinabi), produksi alat berat hingga kuartal pertama tahun 2017 tercatat sebanyak 1.153 unit atau naik 87 persen dibanding periode yang sama tahun lalu sekitar 619 unit. Sementara itu, pada kuartal kedua, industri alat berat nasional mencatat penjualan sebesar 2.467 unit, dan diprediksi akan mencapai 4.400 unit pada akhir tahun 2017.

Guna mendukung program pemerintah dalam swasembada pangan, PT. Komatsu Indonesia berupaya mengembangkan produk alat berat berupa traktor yang dapat dipergunakan untuk tanam benih jagung dengan dilengkapi teknologi internet sebagai pengoperasiannya. Alat berat ini telah diuji coba di lahan pertanian di Merauke, Papua.

“Kami mendorong industri alat berat ini untuk terus berinovasi termasuk menghasilkan produk yang bisa menopang sektor pertanian. Karena ke depannya, sektor pertanian akan semakin modern, terutama di luar Jawa. Kami pacu industri ini semakin meningkatkan komponen lokalnya,” papar Airlangga.

Menurut Airlangga, pemerataan pembangunan juga dilakukan dengan peningkatan nilai tambah di dalam negeri. Hal ini dilakukan pemerintah melalui kebijakan hilirisasi pengolahan bahan tambang. Kebijakan ini sebagai langkah untuk meningkatkan ketersediaan bahan baku material lanjutan, yang dibutuhkan untuk mengembangkan produk-produk industri lanjutan.

"Nilai tambah ini juga bermanfaat bagi ekonomi lokal. Kami ambil contoh di Kabupaten Morowali, dengan adanya industri smelter, ekonomi di sana naik sebesar 65 persen tahun 2015 dan mendorong peningkatan ekspor lebih dari 80 persen pada 2017," tuturnya.

Share this article: