You are here

Indonesia Membutuhkan Infrastruktur Tangguh untuk Mengurangi Risiko Bencana

by Sebastianus Epifany Monday, September 25, 2017 - 14:13

GYEONGJU - Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Republik Indonesia, Basuki Hadimuljono, mendapat kesempatan memberikan sambutan dalam 10th High Level Experts and Leaders Panel on Water and Disasters (HELP) Meeting, di Gyeongju, Korea Selatan. Dalam kesempatan tersebut dirinya menegaskan pentingnya infrastruktur yang tangguh bagi Indonesia.

Basuki Hadimuljono mengatakan bahwa kerjasama internasional sangat diperlukan dalam membangun ketangguhan negara dalam menghadapi bencana terkait air dan perubahan iklim. Hal ini penting karena kerusakan dan kerugian yang ditimbulkan sangat luar biasa baik jiwa, materi dan lingkungan.

“Melalui pertemuan HELP ini, para ahli dari berbagai negara menyampaikan pembelajaran dari kesuksesan maupun kegagalan dalam penanganan bencana. Tidak hanya berhenti disitu, kami mendorong rencana aksi yang bisa digunakan negara-negara lainnya untuk membangun ketangguhan bencana. Terlebih untuk menjamin pembangunan berkelanjutan dan pencegahan semakin bertambahnya kemiskinan akibat bencana” katanya. 

Pertemuan ini menekankan pentingnya pengurangan risiko sebelum terjadinya bencana, bukan setelah bencana terjadi. Kementerian PUPR sendiri mendapat mandat untuk membangun infrastruktur untuk mengurangi risiko bencana terkait air dan perubahan iklim. Secara umum, seluruh infrastuktur yang dibangun Kementerian PUPR diupayakan menjadi infrastruktur tangguh. 

"Kita tidak ingin menyaksikan hilangnya nyawa manusia berikut asset sosial-ekonomi masyarakat, termasuk infrastruktur yang susah payah kita bangun, hancur karena kita kurang memperhatikan aspek kebencanaan," ujar Menteri Basuki.

Dalam tahun-tahun mendatang, investasi diperlukan lebih banyak oleh pemerintah dan swasta dalam membangun infrastruktur, gedung sekolah, rumah sakit, jalan, jembatan, sarana air bersih dan sanitasi, energi, transportasi dan perumahan. Hal ini menjadi keniscayaan karena populasi global akan mencapai 9 milyar penduduk pada tahun 2050.

Share this article: