You are here

Revolusi Industri 4.0 Indonesia Dibahas di Manchester Inggris

by Jonathan Cohen Wednesday, February 6, 2019 - 14:45

Jakarta - Bagi sektor industri nasional, Revolusi Industri 4.0 memberi peluang percepatan penguasaan teknologi sebagai kunci penentu daya saing nasional serta penopang percepatan penguasaan teknologi yang akan menopang pembangunan sistem di era Industri 4.0. Diskusi mengenai hal itu dibahas di Manchester, Inggris.

Pembahasan tentang Revolusi Industri 4.0 dan gagasan untuk diterapkan di Indonesia dikemukakan pada "Open Indodiskusio" yang diprakarsai mahasiswa PhD bidang teknologi pendidikan Universitas Manchester Neny Isharyanti, yang menghadirkan Ketua Umum Inovator 4.0 Indonesia, Budiman Sudjatmiko, di Manchester, Inggris, Rabu.

Neny Isharyanti kepada Antara London, Kamis, menyebutkan dalam diskusi yang berlangsung hangat dalam suasana musim dingin di Inggris, Budiman Sudjatmiko membahas Revolusi Industri 4.0 dan gagasan untuk Indonesia.

Selain itu juga tampil sebagai pembicara CTO Inovator 4.0 Indonesia, Political Ecologist, Drone & Data Academy, Irendra Radjawali membahas Revolusi Industri 4.0 dan data di Indonesia.

Revolusi industri 4.0 ditandai dengan meningkatnya konektivitas, interaksi dan batas antara manusia, mesin dan sumber daya lainnya. Integrasi tersebut dimoderasi oleh teknologi informasi dan komunikasi. Sinergi menjadi kata kunci dalam era revolusi industri keempat ini.

Potensi memberdayakan individu dan masyarakat terbuka lebar pada era ini melalui penciptaan peluang baru bagi ekonomi, sosial, maupun munculnya pengembangan manusia sebagai pribadi.

Akan tetapi di sisi lain, Revolusi Industri 4.0 berpotensi menyebabkan marginalisasi kelompok masyarakat yang tidak memiliki kesiapan bersaing secara individu. Kondisi ini dapat memperburuk kepentingan sosial dengan munculnya kesenjangan sosial, menciptakan risiko keamanan dan merusak hubungan antarmanusia.

Menurut Neny Isharyanti, Revolusi Industri 4.0 menjadi berbeda dengan revolusi industri gelombang ketiga (1960 hingga saat ini) yang berkontribusi pada otomatisasi proses produksi dan kegiatan industri, revolusi industri gelombang kedua (1870-1990) yang berperan dalam produksi masal, dan revolusi industri pertama (1750-1830) lewat mekanisme penggunaan mesin dan sarana teknologi, inovasi.

Di era Revolusi Industri 4.0 dikembangkan dan menyebar lebih cepat lewat berbagai terobosan baru, "output" pekerjaan menjadi semakin meningkat akibat konsentrasi berbagai bidang ilmu dan berdampak pada sistem produksi, manajemen, dan tata kelola organisasi. "Dampak Revolusi Industri 4.0 adalah di hampir semua negara dan bersifat global," ujarnya.

Source: Tempo.co

Share this article: